Feeds:
Posts
Comments

Pendahuluan:

Hutan Tanaman Industri menurut pengertian yang diberikan oleh Wikipedia[1] adalah: sebidang luas daerah yang sengaja ditanami dengan tanaman industri (terutama kayu) dengan tipe sejenis dengan tujuan menjadi sebuah hutan yang secara khusus dapat dieksploitasi tanpa membebani hutan alami.

Menurut PP 7/1990, tujuan dari Pengusahaan Hutan Tanaman Industri adalah untuk:

  1. Menunjang pengembangan industri hasil hutan dalam negeri guna meningkatkan nilai tambah dan devisa.
  2. Meningkatkan produktivitas lahan dan kualitas lingkungan hidup.
  3. Memperluas lapangan kerja dan lapangan usaha.

Secara Ekonomi, pengalihan fungsi lahan menjadi hutan tanaman Industri memiliki dampak positif dan negatif. Dalam paper singkat ini dibahas dampaknya secara ekonomi baik positif dan negatif yang nantinya dapat menjadi masukan bagi pembuat kebijakan .

Hasil hutan tanaman industri berupa kayu bahan baku pulp dan kertas (jenis tanaman akasia) serta kayu pertukangan (meranti). di Indonesia mulai dikembangkan sejak tahun 1990-an di pulau Sumatera khususnya Propinsi Sumatera Selatan dan Riau.

Daerah – daerah yang dialokasikan sebagai konsesi terdiri atas: lahan tandus bekas hutan tebangan, rimba karet, hutan-hutan bakau, beberapa kepemilikan karet skala kecil, perkebunan sawit, padang rumput dan kebun-kebun agrikultur serta pemukiman desa.

Continue Reading »

Hutan Tanaman Industri

Pendahuluan

Hutan sebagai sistem penyangga kehidupan sangat berperan sebagai pengatur tata air, menjaga kesuburan tanah, mencegah erosi, menjaga keseimbangan iklim mikro, penghasil udara bersih, menjaga siklus makanan, serta tempat pengawetan keanekaragaman hayati dan ekosistemnya.

Sementara fungsi ekonomisnya, hutan adalah sumber penghasil barang dan jasa baik terukur maupun yang tidak terukur. Fungsi sosialnya adalah hutan adalah sumber penghidupan bagi sebagian masyarakat, terutama yang berada di sekitar hutan, selain mendukung kepentingan pendidikan, penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dilihat dari jenis peruntukan hutan, maka hutan di Indonesia menurtu peruntukannya dibagi menjadi:

  1. Hutan Konservasi sebesar 20%
  2. Hutan Lindung sebesar 27%
  3. Hutan Suaka sebesar 9.8%
  4. Hutan Produksi Tetap sebesar 17%
  5. Hutan Produksi Tidak Tetap sebesar 16.1%

Dari segi pengelolannya, maka Hutan Produksi menurut pengelolannya bisa menjadi hutan alam atau HPH dan Hutan Tanaman Industri atau HTI.

Hutan Tanaman Industri atau selanjutnya di sebut HTI, adalah sebidang luas daerah yang sengaja ditanami dengan tanaman industri (terutama kayu) dengan tipe sejenis dengan tujuan menjadi sebuah hutan yang secara khusus dapat dieksploitasi tanpa membebani hutan alami.Hasil hutan tanaman industri berupa kayu bahan baku pulp dan kertas (jenis tanaman akasia) serta kayu pertukangan (meranti). Pengusahaan HTI ini di atur dalam Peraturan Pemerintah No 7 Tahun 1990 tentang Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri (HPHTI) yang melibatkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan pihak swasta.

Jenis-jenis HTI

HTI dibedakan menurut jenisnya yaitu:

1. HTI Pulp

2. HTI Kayu Perkakas

3. HTI Trans (dibeberapa daerah seperti Kalimantan sejak tahun 2005, HTI trans sudah tidak ada lagi)

Continue Reading »

LATAR BELAKANG

Air merupakan bagian terbesar dari planet ini. Air juga merupakan bagian penting bagi kehidupan di bumi. Pada saat yang sama air, meskipun merupakan sumber daya alam yang dapat diperbaharui, juga merupakan sumber daya alam yang langka bagi sebagian penghuni bumi ini. Kelangkaan air sungguh ironis dengan predikat Bumi sebagai “Planet Air” lantaran 70% permukaan bumi tertutup air. Namun, sebagian besar air di Bumi merupakan air asin dan hanya sekitar 2,5% saja yang berupa air tawar. Itu pun tidak sampai 1% yang bisa dikonsumsi, sedangkan sisanya merupakan air tanah yang dalam atau berupa es di daerah Kutub.

 

Kompetisi penggunaan air untuk berbagai keperluan membuat ketersediaannya, khususnya air bersih, semakin berkurang. Kompetisi penggunaan air bersih semakin meningkat di daerah perkotaan. Selain digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi, air juga digunakan untuk kegiatan pertanian, industri, dan kegiatan perekonomian lainnya. Di tambah dengan tekanan populasi membuat pengelolaan air bersih di perkotaan menjadi masalah yang sangat pelik. Masalah itu menjadi semakin pelik bila melihat kenyataan bahwa pengelolaan air tidak dapat dipisahkan ke dalam wilayah administratif pemerintahan daerah pada umumnya. Hal ini berarti air harus dikelola secara terintegrasi.

 

Dengan keterbatasannya ini, sungguh keliru kalau orang mengeksploitasi air secara berlebih. Mereka memanfaatkan air seolah-olah air berlimpah dan merupakan “barang bebas”. Padahal semakin terbatas jumlahnya, berlakulah hukum ekonomi, bahwa air merupakan benda ekonomis. Buktinya, kini orang rela bersusah-susah dan berani membayar mahal untuk membeli air ketika terjadi krisis air. Masyarakat desa di negara tropis, seperti Indonesia, harus berjalan puluhan kilometer untuk mencari sumber air di musim kemarau. Sementara masyarakat perkotaan khususnya di DKI Jakarta belum semuanya mendapatkan pelayanan air bersih, baik kuantitas maupun kualitas.

 

Penyediaan air bersih di Indonesia terutama di perkotaan masih menghadapi berbagai kendala yang kompleks, mulai dari kelembagaan, teknologi, anggaran, pencemaran, maupun sikap dari masyarakat. Pengelolaan air bersih ini berpacu dengan pertumbuhan penduduk yang meningkat pesat serta perkembangan wilayah dan industri yang cepat. Masyarakat dan industri di perkotaan inilah yang termasuk boros air.

Continue Reading »

Resume of Paper:

Pattern and Process in Regional Geography

MH Barlow & RG. Newton

Mc Graw Hill, Sydney (Australia & New Zealand)

 

 

 

Geography: Suatu studi tentang berbagai macam karakter dari tempat ke tempat di atas permukaan bumi sebagai tempat tinggal dari manusia.

 

Dalam mempelajari ilmu geografi ada 2 pendekatan yang dilakukan yaitu melalui pendekatan area ataupun fenomena.

Dua buah metode pendekatan yang dikenal dalam ilmu geografi yaitu:

  1. Systematical Approach
  2. Regional Approach

 

Systematical Approach : Mempelajari suatu fenomena yang terjadi di atas permukaan bumi atau daerah dalam suatu waktu tertentu dan menentukan hubungan antara satu fenomena dengan fenomena lainnya.

Regional Approach: Mempelajari berbagai fenomena yang terjadi di satu daerah tertentu dalam suatu waktu tertentu, setiap daerah akan dibedakan dengan fenomena yang khas.

  Continue Reading »

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.