LATAR BELAKANG
Air merupakan bagian terbesar dari planet ini. Air juga merupakan bagian penting bagi kehidupan di bumi. Pada saat yang sama air, meskipun merupakan sumber daya alam yang dapat diperbaharui, juga merupakan sumber daya alam yang langka bagi sebagian penghuni bumi ini. Kelangkaan air sungguh ironis dengan predikat Bumi sebagai “Planet Air” lantaran 70% permukaan bumi tertutup air. Namun, sebagian besar air di Bumi merupakan air asin dan hanya sekitar 2,5% saja yang berupa air tawar. Itu pun tidak sampai 1% yang bisa dikonsumsi, sedangkan sisanya merupakan air tanah yang dalam atau berupa es di daerah Kutub.
Kompetisi penggunaan air untuk berbagai keperluan membuat ketersediaannya, khususnya air bersih, semakin berkurang. Kompetisi penggunaan air bersih semakin meningkat di daerah perkotaan. Selain digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi, air juga digunakan untuk kegiatan pertanian, industri, dan kegiatan perekonomian lainnya. Di tambah dengan tekanan populasi membuat pengelolaan air bersih di perkotaan menjadi masalah yang sangat pelik. Masalah itu menjadi semakin pelik bila melihat kenyataan bahwa pengelolaan air tidak dapat dipisahkan ke dalam wilayah administratif pemerintahan daerah pada umumnya. Hal ini berarti air harus dikelola secara terintegrasi.
Dengan keterbatasannya ini, sungguh keliru kalau orang mengeksploitasi air secara berlebih. Mereka memanfaatkan air seolah-olah air berlimpah dan merupakan “barang bebas”. Padahal semakin terbatas jumlahnya, berlakulah hukum ekonomi, bahwa air merupakan benda ekonomis. Buktinya, kini orang rela bersusah-susah dan berani membayar mahal untuk membeli air ketika terjadi krisis air. Masyarakat desa di negara tropis, seperti Indonesia, harus berjalan puluhan kilometer untuk mencari sumber air di musim kemarau. Sementara masyarakat perkotaan khususnya di DKI Jakarta belum semuanya mendapatkan pelayanan air bersih, baik kuantitas maupun kualitas.
Penyediaan air bersih di Indonesia terutama di perkotaan masih menghadapi berbagai kendala yang kompleks, mulai dari kelembagaan, teknologi, anggaran, pencemaran, maupun sikap dari masyarakat. Pengelolaan air bersih ini berpacu dengan pertumbuhan penduduk yang meningkat pesat serta perkembangan wilayah dan industri yang cepat. Masyarakat dan industri di perkotaan inilah yang termasuk boros air.
PERMASALAHAN SAAT INI
Jika dilihat dari kondisi saat ini, juga beberapa penelitian yang telah dilaksanakan untuk mengetahui masalah pengelolaan air bersih di DKI Jakarta, maka dapat disimpulkan masalah yang ada saat ini adalah:
- Harga / Tarif
Kebanyakan masyarakat mengeluh tingginya tarif air bersih yang dikenakan untuk setiap meter kubiknya, alternatif lain adalah menggunakan sumur pompa/ sumur gali yang kebanyakan sumber air bakunya sudah tecemar oleh bakteri koli, atau logam berat lainnya, ditambah lagi jika menggunakan pompa,
masyarakat harus mengeluarkan biaya ekstra untuk listrik. Jika masyarakat menggunakan air minum dalam kemasan, biaya yang harus dikeluarkan cukup tinggi.
Kesulitan masyarakat memperoleh air bersih semakin bertambah, ketika sebagian besar perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di Indonesia beroperasi dalam kondisi tidak sehat. Privatisasi pengelolaan air seperti yang dilakukan di Kota Jakarta, juga tidak berpengaruh signifikan terhadap pengelolaan air bersih.
- Kualitas
Air tanah di perkotaan telah tercemar oleh bakteri dan logam. Penyedotan air tanah secara berlebihan telah menurunkan permukaan air tanah dan menyusupnya (intrusi) air laut. Penurunan permukaan air tanah dan intrusi air laut terus berlangsung di Jakarta, sehingga kualitas air tanah pun makin menurun.
Tiga belas sungai yang melewati ibukota tercemar bakteri E-Coli, termasuk tujuh puluh persen air tanahnya. Menurut penelitian Budirama (Belum Semua Warga Menikmati Air Bersih – Jaringan Informasi Kebijakan Publik, 25 April 2007) salah satu sungai yang tingkat pencemarannya paling parah adalah Sungai Ciliwung. Kadar bakteri E-coli pada sungai itu mencapai 1,6-3 juta individu per 100cc, jauh di atas baku mutu 2.000 individu per 100cc. Padahal sungai ini menjadi bahan baku air minum di Jakarta.
Kenyataan yang harus diterima oleh masyarakat saat ini adalah, kualitas air bersih yang ada sudah sangat buruk, baik itu keruh, bau, kuning, bercacing dan sebagainya, belum lagi jika daerah tersebut merupakan daerah yang sumber air bakunya sudah payau akibat intrusi air laut, jika ingin mengambil dari kali / sungai sudah tidak mungkin karena kondisi air sungai kita sudah tercemar sangat berat.
- Kontinuitas
Saat musim hujan kita mengalami banjir atau kelebihan air, saat musim kemarau kita kekurangan air, hal ini akibat ulah kita sendiri yang tidak mau peduli terhadap lingkungan, sehingga air tidak meresap lagi ke dalam tanah atau langsung mengalir ke laut, belum lagi jika setiap rumah tangga menggunakan pompa dan berlomba terus memperbesar kapasitas pompa dan memperdalam sumur bor, akibatnya permukaan tanah kita semakin turun.
Hujan deras selama musim penghujan sayangnya tidak mampu mengisi air tanah di Jakarta dan daerah perkotaan lain yang padat penduduknya. Rumah yang berdesakan, gedung bertingkat menjulang, jalan aspal, serta permukaan tanah yang “penuh beton” menghalangi air hujan masuk ke dalam tanah. Genangan air itu langsung masuk ke selokan dan sungai atau membuat banjir berbagai ruas jalan.
- Pengetahuan Masyarakat
Tingkat pendidikan rata-rata di ibukota Jakarta khususnya untuk daerah pinggiran umumnya masihlah sangat rendah. Kesadaran masyarakat akan pentingnya air bersih belum dapat diandalakan sebagai salah satu pondasi terlaksananya program pengelolaaan air bersih di DKI Jakarta. Tingkat ekonomi yang juga masih rendah membuat pola partisipasi masyarakat dalam pengelolaan air bersih belum menjadi prioritas.
Di sisi lain masyarakat hanya dapat berbuat sesuai dengan kemampuannya, tanpa ditopang oleh teknologi maupun pengetahuan yang cukup, sehingga saat
ini bagi mereka yang mampu dapat memenuhi kebutuhannya melalui air minum dalam kemasan, dan untuk kebutuhan lainnya seperti cuci, mandi dst. mereka menggunakan pompa air (sumur bor / sumur gali) dengan kedalaman yang beragam.
<!–[if gte mso 9]> Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4 <![endif]–><!–[if gte mso 9]> <![endif]–>
PEMECAHAN MASALAH
Dari masalah-masalah tersebut di atas, beberapa alternative pemecahan masalah dapat dilaksanakan dengan melibatkan partisipasi masyarakat.
<!–[if !supportLists]–>1) <!–[endif]–>Pembatasan Penggunaaan Pompa Secara Individu.
Dengan alternative penggunaaan pompa air secara komunal maka pembatasan penggunakan pompa secara individu ini dapat dihindari, sehingga permukaan air tanah akan mudah dikontrol dan tidak lagi terintrusi air laut, juga dapat menghemat penggunaan listrik serta efisien dalam menggunakan air.
<!–[if !supportLists]–>2) <!–[endif]–>Melakukan Manajemen Lingkungan
Salah satu caranya adalah yaitu dengan membuat pengolah air kotor secara komunal, agar sumber air baku kita tidak lagi tercemar oleh bakteri coli maupun logam berat dan membangun sumur – sumur resapan guna menyuntik kembali air ke dalam tanah yang menyebabkan sumber air baku kita tidak berkurang.
<!–[if !supportLists]–>3) <!–[endif]–>Peningkatan Pengetahuan Masyarakat Akan Pentingnya Air Bersih
Dengan meningkatanya kesadaran dan pengetahuan masyarakat akan pentingnya air bersih serta pengalaman yang cukup, maka kualitas dari produk air yang dihasilkan dapat diperbaiki sesuai dengan kemampuan keuangan masing – masing strata masyarakat, yang masih dalam koridor standar baku mutu yang sudah ditetapkan pemerintah.
<!–[if !supportLists]–>4) <!–[endif]–>Menggalakkan Gerakan Air Bersih Berbasis Komunitas
Dalam rangka menyediakan jaringan air bersih masyarakat didorong agar lebih mandiri. Pemerintah hanya berperan sebagai penentu standar, fasilitator untuk menampung aspirasi warga terkait masalah pelayanan air bersih dan meningkatkan kualitas produksi air serta akses pelayanan kepada publik. Sudah saatnya dipikirkan untuk menyediakan pelayanan air bersih dan sanitasi berbasis komunitas.
<!–[if !supportLists]–>5) <!–[endif]–>Perbaikan Manajemen Pengelola Air Bersih
Jika manajemen pengelolaan dilakukan oleh mereka yang profesional sehingga manajemen menjadi ramping dan efisien. Salah satu cara untuk mencapai hal ini kita harus memperkecil jarak antara sumber air baku dengan konsumen sehingga tidak terjadi kebocoran, selain itu jumlah pelanggan dibatasi agar mudah dikendalikan dengan demikian maka pelayanan bagi pelanggan dapat ditingkatkan.
Daftar Pustaka
- Agustus 2007, Prastowo Cahjadi Henry Viriya Surya, Permasalahan dan Pengelolaan Air Bersih di JABOTABEK, Center for Policy and Implementation Studies
- 25 April 2007, Belum Semua Warga Menikmati Air Bersih, Jaringan informasi publik
- http://zeofilt.wordpress.com/2008/01/31/sistem-pengolahan-air-bersih/ , waktu kunjung: 19 Oktober 2008
- http://artesis.wordpress.com/2007/09/08/pengelolaan-air-bersih-di-saat-krisis/ , waktu kunjung: 19 Oktober 2008
- www.jawaban.com, Jakarta Krisis Air Bersih Metropolitan –
Senin, 25 Juni 2007 16:26:39 WIB
<!–[if !supportLineBreakNewLine]–>
<!–[endif]–>