Hutan Tanaman Industri
Pendahuluan
Hutan sebagai sistem penyangga kehidupan sangat berperan sebagai pengatur tata air, menjaga kesuburan tanah, mencegah erosi, menjaga keseimbangan iklim mikro, penghasil udara bersih, menjaga siklus makanan, serta tempat pengawetan keanekaragaman hayati dan ekosistemnya.
Sementara fungsi ekonomisnya, hutan adalah sumber penghasil barang dan jasa baik terukur maupun yang tidak terukur. Fungsi sosialnya adalah hutan adalah sumber penghidupan bagi sebagian masyarakat, terutama yang berada di sekitar hutan, selain mendukung kepentingan pendidikan, penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dilihat dari jenis peruntukan hutan, maka hutan di Indonesia menurtu peruntukannya dibagi menjadi:
- Hutan Konservasi sebesar 20%
- Hutan Lindung sebesar 27%
- Hutan Suaka sebesar 9.8%
- Hutan Produksi Tetap sebesar 17%
- Hutan Produksi Tidak Tetap sebesar 16.1%
Dari segi pengelolannya, maka Hutan Produksi menurut pengelolannya bisa menjadi hutan alam atau HPH dan Hutan Tanaman Industri atau HTI.
Hutan Tanaman Industri atau selanjutnya di sebut HTI, adalah sebidang luas daerah yang sengaja ditanami dengan tanaman industri (terutama kayu) dengan tipe sejenis dengan tujuan menjadi sebuah hutan yang secara khusus dapat dieksploitasi tanpa membebani hutan alami.Hasil hutan tanaman industri berupa kayu bahan baku pulp dan kertas (jenis tanaman akasia) serta kayu pertukangan (meranti). Pengusahaan HTI ini di atur dalam Peraturan Pemerintah No 7 Tahun 1990 tentang Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri (HPHTI) yang melibatkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan pihak swasta.
Jenis-jenis HTI
HTI dibedakan menurut jenisnya yaitu:
1. HTI Pulp
2. HTI Kayu Perkakas
3. HTI Trans (dibeberapa daerah seperti Kalimantan sejak tahun 2005, HTI trans sudah tidak ada lagi)
Menurut data dari Departemen Kehutanan sbb:
|
|
PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN INDUSTRI (HPH TANAMAN)/ Plantation Forest Development |
|
||||||
|
No |
Tahun |
HTI-Pulp |
Pertukangan |
Tanaman |
JUMLAH Tanaman |
|||
|
Non Trans |
Trans |
Andalan |
||||||
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
6 |
7 |
||
|
1 |
1989/1990 |
29.160,00 |
102.494,82 |
0,00 |
0,00 |
131.654,82 |
||
|
2 |
1990/1991 |
65.661,36 |
104.213,11 |
0,00 |
0,00 |
169.874,47 |
||
|
3 |
1991/1992 |
104.221,85 |
109.769,18 |
0,00 |
0,00 |
213.991,03 |
||
|
4 |
1992/1993 |
83.962 |
139.771 |
11.120 |
0 |
234.853 |
||
|
5 |
1993/1994 |
113.066 |
138.625 |
50.021 |
71.895 |
373.607 |
||
|
6 |
1994/1995 |
117.940 |
56.253 |
44.620 |
77.973 |
296.786 |
||
|
7 |
1995/1996 |
162.200 |
54.449 |
48.551 |
61.248 |
326.448 |
||
|
8 |
1996/1997 |
172.320 |
63.477 |
60.420 |
94.324 |
390.542 |
||
|
9 |
1997/1998 |
100.883 |
38.181 |
39.003 |
88.542 |
266.609 |
||
|
10 |
1998/1999 |
82.604 |
22.840 |
29.526 |
45.536 |
180.506 |
||
|
11 |
1999/2000 |
85.744 |
24.448 |
27.301 |
**) |
137.493 |
||
|
12 |
2000 *) |
58.152 |
7.960 |
13.637 |
**) |
79.748 |
||
|
13 |
2001 |
56.299 |
6.276 |
4.397 |
|
66.972 |
||
|
JUMLAH/Total |
1.232.212 |
868.757 |
328.595 |
439.518 |
2.869.083 |
|||
|
Sumber/ Source : |
Direktorat Jenderal Bina Produksi Kehutanan/ Directorate General of Forest Production Development |
|
Keterangan/ Note : |
||
|
*) |
: |
Data April s/d Desember 2000 |
|
**) |
: |
Tanaman Andalan sudah termasuk dalam HTI Pulp, HTI Perkakas & HTI Trans |
|
|
: |
Local Specific Species (LSS) is included in PP, CWP and TIP |
|
PP |
: |
Pulp Plantation |
|
CWP |
: |
Construction-Wood Plantation |
|
TIP |
: |
Transmigrat Involved Plantation |
|
LSS |
: |
Local Spesific Species |
Jenis-jenis Pohon Yang Dimanfaatkan Untuk Hutan Tanaman Industri
- Jenis pohon yang ditanam untuk memenuhi kebutuhan Industri Pulp
- Pinus
- Eucalyptus spp
- Acacia mangium
- Meranti
- Sungkai
- Gmelina arborea
- Jenis pohon yang ditanam untuk memenuhi kebutuahn industri Kayu – Perkakas
- kayu Jabon
- Karet
- Jelutung
- Gmelina
- Acacia mangium
- Eucalyptus deglupta
- Paraserianthes falcataria
- Peronema canescens
- Pinus
- Meranti Sungkai
- Ulin
- Ramin
- Jenis pohon yang ditanam oleh HTI Trans
- kayu Jabon
- Karet
- Tengkawang
- Gmelina
- Acacia mangium
- Eucalyptus deglupta
- Paraserianthes falcataria
- Peronema canescens
- Tectona grandis
- Meranti
- Sungkai
- Jelutung
- Jabon
- Balsa
Permasalahan Saat Ini
Kenaikan konsumsi kertas per kapita di Indonesia utamanya dipicu oleh bertambahnya industri pers dan percetakan. Harga pulp yang tinggi di pasar internasional (saat ini harganya US$ 680 – 700 per ton) dan konsumsi kertas yang terus meningkat merupakan dua faktor utama yang merangsang pertumbuhan industri pulp dan kertas di Indonesia.
HTI membutuhkan biaya investasi yang tinggi, sehingga diperlukan kehati-hatian dalam pengeloaannya. Salah satu faktor sukses tidaknya suatu HTI adalah para pengelola harus pandai menentukan pemilihan jenis tanaman dan melakukan pemelihaan unsur hara.
Pada umumnya, investasi yang dilakukan dihitung dengan asumsi bahwa produktivitas lahan akan tetap selama jangka-waktu pengusahaan (beberapa rotasi tanaman). Pada sebagian besar lahan hutan-hutan tanaman di daerah tropis, asumsi ini terbukti salah dengan terjadinya kehilangan unsur hara secara kontinyu dan penurunan produktivitas lahan yang diakibatkannya.
Unsur Hara
Unsur-unsur hara tersebut tidak selalu tersedia secara kontinyu pada suatu lahan, tetapi ketersediaannya berubahubah. Pengelolaan lahan yang intensip akan mengurangi atau bahkan menghabiskan unsur-unsur hara yang tersedia. Pengelolaan unsur hara dalam hal ini meliputi teknik-teknik untuk meminimalkan kehilangan-kehilangan unsur hara yang disebabkan oleh kegiatan-kegiatan pengelolaan lahan, dan untuk memastikan tersedianya unsur hara dalam jumlah yang sesuai.
Penyebab hilangnya unsur hara diantara sbb.:
- Hilangnya unsur hara akibat tebang bakar
- Hilangnya unsur hara akibat pemanenan tegakan
- Hilangnya unsur hara akibat erosi
Pemecahan Masalah
Salah satu langkah yang dapat diambil untuk mempertahankan unsur hara di dalam tanah sehingga HTI dapat terus berproduksi adalah melakukan pemupukan. Untuk mempertahankan produktivitas lahan dari kehilangan-kehilangan unsur hara yang terjadi dalam pengelolaan hutan tanaman, maka persediaan unsur hara tanah perlu ditambah dengan pupuk-pupuk mineral. Pemupukan memiliki dua tujuan, yaitu untuk menstimulasi pertumbuhan tanaman dan untuk menambah kandungan unsur hara tanah.
Kesimpulan
Dapat disimpulkan, bahwa pengelolaan unsur hara yang intensip dibutuhkan untuk mempertahankan produktivitas hutan tanaman industri pada tingkatan yang menguntungkan. Dalam praktek pengelolaan yang standar/biasa, kehilangan-kehilangan unsur hara dan karenanya juga penipisanunsur hara tanah akibat kegiatan-kegiatan pengelolaan diperkirakan sangat tinggi. Walaupun demikian, kehutanan tanaman industri memiliki potensi untuk memperbaiki budget unsur hara lahan dengan mengoptimalkan pemilihan jenis pohon dan lahan, serta menerapkan tehnik pembangunan tegakan dan pemanenan yang lebih baik/maju.
Pemilihan lahan yang tepat merupakan hal yang penting bagi keberhasilan hutan tanaman industri secara ekonomi dan ekologi. Keberlajutan hutan tanaman industri secara ekonomis dan ekologis tergantung sebagian besar pada kemampuannya untuk mempertahankan budget unsur hara.
Daftar Pustaka
- Dr. Jens Mackensen, 2000, Penelitian Hutan Tropis Pengelolaan Unsur Hara pada Hutan Tanaman Industri (HTI) di Indonesia Petunjuk praktis kearah pengelolaan unsur hara terpadu
- Malmer, A., 1993. Dynamics of hydrology and nutrient losses as response to etablishment of forest plantation. A case study on tropical rainforest land in Sabah, Malaysia. PhD-Thesis, Swedish University of Agricultural Sciences, Depart. of Forest Ecology, Umeå, Sweden.
- http://www.dephut.go.id/INFORMASI/statistik/2001/BPK/i_1_4.htm, tanggal kunjungan 1 november 2008
- http://id.wikipedia.org/wiki/Hutan_tanaman_industri, tanggal kunjungan 24 oktober 2008
- Arifin Arief, 2001, Kanisius, Yogyakarta, Hutan dan Kehutanan
- http://zainalarifin.wordpress.com/2008/01/19/industri-pulp-dan-kertas-ancaman-baru-terhadap-hutan-alam-indonesia/ tanggal kunjungan 1 November 2008
- http://www.fahutan.s5.com/Juli/prediksi.htm tanggal kunjunga 24 Oktober 2008